IKASSI.NET.,AMBON– Suara riuh burung seketika luruh, berganti dengan keheningan yang magis saat prosesi itu dimulai. Di bawah langit Negeri Siri Sori Islam, aroma adat yang sakral berkelindan erat dengan rasa haru yang membubung tinggi. Hari itu bukan sekadar urusan birokrasi atau seremonial pemerintahan biasa. Itu adalah sebuah pembuktian sejarah: janji masa lalu yang akhirnya pulang ke rumahnya.
Bupati Maluku Tengah, Zulkarnain Awat Amir dengan suara yang bergetar, merangkum atmosfer emosional tersebut dalam sebuah kalimat yang menyentuh kalbu. “Hari ini bukan sekadar pelantikan seorang pemimpin negeri, tetapi hari pulangnya sejarah kepada rumahnya. Hari ini, harapan, kesabaran, serta doa yang dipanjatkan masyarakat Negeri Siri Sori Islam dijawab oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala.”
Pelantikan Syarifuddin Pattisahusiwa sebagai Upu Latu (Raja) Negeri Siri Sori Islam menjadi magnet yang menarik kembali ikatan batin anak cucu negeri. Sebuah momentum yang mengakhiri penantian panjang, sekaligus mengawali babak baru bagi persaudaraan mereka.

Ada pemandangan yang tidak biasa di pelataran negeri. Ribuan pasang mata menyaksikan prosesi dengan binar kebahagiaan yang serupa. Mulai dari para tokoh masyarakat, dan tetua adat yang sarat senyum kebijaksanaan, pemuda yang berdiri tegak penuh energi, hingga anak-anak kecil yang kelak akan menceritakan hari ini pada generasi berikutnya.
Bahkan, jarak ribuan mil seketika terasa runtuh. Banyak anak-anak Negeri Siri Sori Islam yang berada di tanah rantau rela menanggalkan sejenak rutinitas dan pekerjaan mereka. Mereka menyeberangi lautan, pulang demi menjadi saksi hidup sebuah sejarah baru.
“Saya berdiri di tempat ini dengan perasaan yang sangat berbeda. Saya bersyukur, bangga, dan terus terang sangat terharu,” ungkap Bupati, menatap kerumunan warga yang menyaksikan langsung proses pelantikan Upu Sahusiwa secara administrasi maupun melalui dua televisi besar yang menempel di panggung utama hingga pelataran rumah raja. “Ini adalah pesan penting dan kuat bahwa Negeri Siri Sori Islam sedang menunjukkan kepada Maluku Tengah dan Maluku, bahwa persatuan itu hidup, cinta kepada negeri itu nyata, dan ikatan anak negeri tidak pernah putus oleh jarak dan waktu.”

Kehadiran para petinggi daerah (Kapolda, Bupati Maluku Tengah dan Wakil, Bupati Buru, Bupati Seram Bagian Timur dan Wakil, Sekda Buru Selatan, Kepala Kanwil Agama Maluku dan jajaran), termasuk pimpinan dan anggota DPRD Provinsi Maluku serta Kabupaten Maluku Tengah, jajaran OPD, hingga Camat Saparua dan Saparua Timur, seolah menegaskan betapa berartinya peristiwa adat ini bagi konstelasi Maluku secara luas.
Bahkan, kehadiran Gubernur dan Wakil Gubernur Maluku di tengah-tengah warga laksana segel penegas bahwa membangun Maluku memang harus dimulai dari merawat akar rumputnya.
Namun, di balik kegembiraan yang meluap, realitas masa depan telah menanti di garis depan. Tantangan penyelenggaraan pemerintah desa kini kian kompleks. Perubahan zaman bergerak begitu cepat, berbanding lurus dengan tingginya tuntutan masyarakat.
Dalam membangun negeri tidak bisa hanya dibebankan kepada raja. Membangun negeri adalah pekerjaan bersama-sama, raja tidak bisa berjalan sendiri, dan pemerintah negeri tidak bisa berdiri sendiri, perlu adanya kolaborasi dari tokoh agama, tokoh adat, perempuan-perempuan hebat dan pemuda-pemuda yang mau berkarya untuk seluruh masyarakat berjalan dalam satu langkah dan satu tujuan.

“Kalau masyarakat bersatu tidak ada persoalan yang tidak bisa diselesaikan, kalau masyarakat bergandengan tangan tidak ada tantangan yang tidak mampu untuk dihadapi, saya juga mengingatkan pentingnya pengelolaan anggaran desa secara baik, bijaksana, transparan dan akuntansi,” pinta Zulkarnain.
Setiap rupiah anggaran harus digunakan untuk kepentingan masyarakat. Anggaran desa bukan sekadar angka dalam dokumen melainkan detak jantung harapan masyarakat untuk mendapatkan fasilitas kesehatan yang layak, pendidikan yang baik, dan infrastruktur yang memadai. “Saya percaya dengan kepemimpinan dari Upu Latu dan dukungan seluruh masyarakat negeri Siri Sori Islam akan semakin maju, semakin berkembang dan semakin mampu melahirkan karya-karya besar bagi Maluku Tengah dan Maluku,” ucapnya.
Pada kesempatan itu, Zulkarnain juga menyampaikan penghargaan dan terima kasih yang tulus kepada seluruh masyarakat negeri Siri Sori Islam atas hubungan terhadap setiap program dan kebijakan pemerintah daerah. Dukungan tersebut adalah kekuatan besar bagi dirinya untuk terus bekerja dan menghadirkan pelayanan terbaik bagi seluruh masyarakat.
Ucapan terima kasih dan apresiasi juga disampaikan kepada Muhammad Rahayu Toisuta atas dedikasi dan pengorbanannya selama mengemban tugas sebagai Pejabat Negeri. Begitu pula kepada Saniri Negeri yang telah mengawal transisi ini dengan penuh rasa hormat dan kebersamaan, hingga seluruh prosesi adat dan administrasi dapat berjalan mulus tanpa celah.
Sebagai penutup yang manis, sebuah pesan filosofis ditinggalkan untuk direnungkan oleh seluruh anak negeri, “Ingatlah bahwa pohon besar tumbuh karena akar yang kuat. Negeri yang besar tumbuh karena rakyatnya bersatu.” (addm)











Discussion about this post