IKASSI.NET.,-AMBON– Negeri Siri Sori Islam akan memasuki babak baru kepemimpinan adat. Pada 23 Mei 2026 mendatang, masyarakat negeri akan menyaksikan pelantikan resmi Raja Negeri Siri Sori Islam, Syarifuddin Pattisahusiwa, sosok putra negeri yang telah mengabdikan sebagian besar hidupnya untuk bangsa melalui pengabdian panjang di TNI Angkatan Laut.
Bagi masyarakat Siri Sori Islam, nama Syarifuddin Pattisahusiwa bukan sekadar figur pemimpin baru. Ia adalah representasi anak negeri yang lahir dari didikan keras keluarga, ditempa disiplin militer, lalu kembali dengan semangat membangun kampung halaman yang dicintainya. Sosoknya hadir bukan hanya sebagai pemimpin adat, tetapi sebagai figur yang membawa pengalaman panjang, ketegasan seorang prajurit, serta kerinduan mendalam untuk menghidupkan kembali marwah negeri yang menurutnya perlahan mulai memudar.
Dalam pertemuan bersama ADDM IKASSI Ambon, Syarifuddin menuturkan perjalanan hidupnya dengan sederhana namun penuh makna. Ia lahir di Jakarta, namun dua tahun kemudian dibawa kembali ke kampung halaman. Masa kecilnya tumbuh di Siri Sori Islam, menjalani kehidupan kampung yang keras tetapi penuh kebersamaan. Ia mengenyam pendidikan di SD Negeri Siri Sori Islam hingga lulus tahun 1985 sebelum melanjutkan pendidikan ke SMP Negeri 4 Siri Sori Serani.
Perjalanan hidup kemudian membawanya kembali ke Jakarta untuk menyelesaikan pendidikan di SMP Negeri 52 Jakarta Timur dan STM Negeri 8 Jakarta Timur hingga lulus tahun 1991. Setelah sempat bekerja di bidang kelistrikan, tahun 1995 menjadi awal pengabdian besarnya kepada negara ketika ia resmi bergabung dengan TNI Angkatan Laut di Halong.
Karier militernya dimulai di Armada Timur dan kemudian bertugas di KRI Teluk Manado 537 di bawah Komando Lintas Laut Militer di Tanjung Priok. Pada masa itu Indonesia masih berada di era Presiden Soeharto. Ia menjalani berbagai penugasan berat, mulai dari operasi ke Timor Timur hingga Aceh pada masa konflik. Ia juga terlibat dalam pelayanan transmigrasi masyarakat dari Surabaya menuju Tarakan.
Baginya, pengabdian bukan sekadar tugas negara, tetapi juga latihan hidup tentang tanggung jawab, disiplin, dan ketahanan menghadapi situasi sulit. Tahun 2001 ia dipindahkan ke Mabesal Diskomlekal sebagai juru komunikasi sebelum akhirnya melanjutkan tugas di Lantamal XI Merauke yang kini dikenal sebagai Koarmada III.
Di tanah paling timur Indonesia itu, Syarifuddin menghabiskan masa dinasnya menjaga wilayah perbatasan RI–Papua Nugini. Selama bertahun-tahun ia menjalani tugas bergantian antara markas dan wilayah perbatasan setiap enam bulan sekali. Hingga akhirnya pada 1 Maret 2026, ia resmi pensiun dari TNI Angkatan Laut. Namun pensiun bukan akhir perjalanan hidupnya. Justru di titik itulah jalan pengabdian baru dimulai.
Di balik sosok tegas seorang mantan prajurit, tersimpan kenangan mendalam tentang almarhum ayahnya, Haji Abdul Majid Pattisahusiwa. Sosok ayah yang menurutnya sangat keras dalam mendidik anak-anak, tetapi penuh cinta dan disiplin. Dari sang ayah pula muncul pertanyaan yang kelak menjadi penentu jalan hidupnya.
“Anak, kamu mau jadi Raja?” Pertanyaan itu pernah disampaikan ayahnya ketika ia masih aktif berdinas. Saat itu ia menjawab sanggup, meski ayahnya mengatakan dirinya belum bisa menjadi Raja karena masih mengabdi di militer. Kini setelah pensiun, ia merasa telah siap lahir dan batin untuk kembali ke negeri dan menjalankan amanah tersebut.
Bagi Syarifuddin, membangun negeri bukan hanya soal pembangunan fisik. Yang paling penting menurutnya adalah mengembalikan identitas masyarakat Siri Sori Islam yang perlahan mulai hilang. Ia mengaku prihatin melihat bahasa daerah yang semakin jarang digunakan generasi muda.
Ia ingin anak-anak negeri kembali berbicara menggunakan bahasa kampung agar warisan leluhur tidak hilang dimakan zaman. Kenangan masa kecil yang masih melekat kuat dalam ingatannya menjadi alasan mengapa ia begitu mencintai negerinya.
Ia masih mengingat bagaimana dahulu anak-anak sekolah harus berjalan kaki menyeberangi sungai Lahakelalo menuju sekolah. Ketika air pasang datang, mereka harus melepas sepatu dan saling menggendong untuk menyeberang. Kehidupan sederhana itu justru melahirkan rasa persaudaraan yang kuat di antara sesama anak negeri.
Kini, semangat kebersamaan itulah yang ingin ia hidupkan kembali. Ia juga berkomitmen mengaktifkan kembali pengajian-pengajian kampung yang mulai berkurang. Menurutnya, negeri yang kuat harus dibangun dengan pendidikan agama yang baik. Ia bahkan merencanakan lomba pengajian untuk melahirkan generasi muda terbaik menuju ajang MTQ.
Tidak hanya itu, ia ingin menghidupkan kembali kewang, sistem keamanan adat yang dulu menjadi penjaga ketertiban kampung. Menurutnya, kewang harus kembali aktif agar keamanan dan disiplin masyarakat tetap terjaga.
Dalam visi kepemimpinannya, disiplin menjadi hal utama. Ia menegaskan bahwa kantor pemerintahan negeri harus benar-benar hidup dan melayani masyarakat. Seluruh aparat pemerintahan harus hadir tepat waktu dan bekerja dengan penuh tanggung jawab.
Syarifuddin juga membawa perhatian besar terhadap persoalan lingkungan. Ia merencanakan pembangunan tempat pembuangan sampah terpadu dengan sistem pemisahan sampah basah dan kering. Baginya, persoalan sampah bukan sekadar urusan kebersihan, tetapi menyangkut kesadaran masyarakat menjaga masa depan negeri.
Di bidang pemerintahan, ia menegaskan pentingnya transparansi anggaran. Ia ingin setiap penggunaan dana diketahui masyarakat melalui papan pengumuman yang dipasang di setiap Hatam atau kawasan negeri. Dengan begitu, masyarakat dapat melihat langsung penggunaan anggaran secara terbuka. Baginya, kejujuran adalah fondasi utama kepemimpinan.
Ia juga percaya bahwa persoalan masyarakat sebaiknya diselesaikan terlebih dahulu melalui hukum adat sebelum dibawa ke ranah kepolisian. Menurutnya, adat adalah benteng yang menjaga keharmonisan hidup masyarakat negeri.
Menjelang pelantikannya sebagai Raja Negeri Siri Sori Islam pada 23 Mei 2026 mendatang, dukungan terhadap Syarifuddin Pattisahusiwa terus mengalir dari berbagai kalangan masyarakat, termasuk warga IKASSI dari Sabang sampai Merauke.
Di tengah perjalanan panjang hidupnya sebagai anak kampung, prajurit laut, penjaga perbatasan, hingga kini calon Raja, Syarifuddin Pattisahusiwa memilih satu jalan yang sederhana namun penuh makna: pulang untuk membangun negeri yang ia cintai. (ADDM)












Discussion about this post