Bay : MSW, Penasihat IKASSI Ambon
“Tene Enno Ne’eteko, Ne’eteko Mese Mese” adalah salah satu filosofi hidup orang tua- tua yang masih lestari hingga kini.
Perhelatan Akbar Pelantikan & Pengukuhan Raja telah berlalu, manakala kita merefleksikan kembali pasca perhelatan pelantikan & pengukuhan Raja dengan mengedepankan tajuk “menatap masa depan Negeri 551” maka kita harus mengawalinya dengan spirit atau semangat yang tercermin dalam Acara Pelantikan & Pengukuhan Raja yang sangat religi, sakral, syahdu dan meriah, dan disaksikan ribuan publik.
Bagi generasi muda Accs tentunya masing-masing punya kenangan dan kesan tersendiri sebagai asesoris lain dari perhelatan Akbar dimaksud, sementara bagi yang sudah senior sukar untuk dilukiskan karena sangat mahal apakah perhelatan kemarin menjadi kenangan terakhir ? Wallahualam bisawab hanya Allah yang tahu.
IKASSI Ambon dalam rapat pengurus yang diperluas, media 15.6.2026 dengan agenda LPJ Pokja & evaluasi sebagai konsekwensi dari kerja kepanitiaan. IKASSI Ambon secara umum melihat pelantikan & pengukuhan Raja Syarifudin Pattisahusiwa bukan hanya sebagai acara serimoni semata, akan tetapi lebih jauh dari itu pelantikan & pengukuhan sebagai Era Baru, memberikan isyarat yang kuat bahwa kedepan negeri 551 lebih baik dan maju sesuai standart dan ukuran yang diatur dalam peraturan Pemerintah. Pada titik ini diperlukan kehadiran dan dukungan dari semua Accs dimana saja berada.
Harapan kedepan Raja sebagai KPN sesuai dengan kewenangan perlu menata kembali Pemerintahan, menata pranata agama, pranata adat dan pranata sosial lainnya yang dianggap belum sempurna. Penataan dimaksud dalam suatu pemerintahan hal biasa, bertujuan agar pemerintahan menjadi kuat, dalam istilah bahasa sissodi “tatuloo numakana” maknanya adalah pemerintahan negeri kokoh, kapabel dan berwibawa dihadapan rakyatnya dalam menjalankan tugas dan tanggungjawab demi kemajuan Amanno.
IKKASSI-IKASSI-BASISDA Bacarita
Salah satu momentum penting dengan mengusung Tema “Mae Ihanue Kuamanno” atau Mari Bangun Negeri. IKASSI Bacarita sebagai satu episentrum baru diera Raja Syarifuddin tidak hanya sekedar forum bacarita, akan tetapi forum yang memiliki makna penting tersirat maupun tersurat, dimana para pemimpin organisasi anak negeri di rantau ikut terlibat langsung berpikir menatap masa depan Amanno, artinya ikut bertanggungjawab secara moril atas masa depan Amanno
Konsekwensi moril adalah mengikat kedua pihak antara anak-anak negeri dengan Pemerintah Negerinya agar bersama-sama memikirkan Pembangunan Negeri. Bagaimanapun keberadaan dan kehadiran anak negeri yang ada diluar Amanno harus di pandang sebagai salah satu aset SDM negeri yang bernilai dan bermanfaat untuk kemajuan pembangunan negeri
Ditengah kesadaran dan tantangan kemampuan APBNeg semakin rendah untuk membiayai pembangunan, maka pertanyaan sederhana apakah para petinggi Ikassi-Basisda mampu mewujudkan komitmen moral dalam bentuk nyata terhadap pemerintah negeri ?
Jika merujuk pada spirit pelantikan & pengukuhan maka jawaban atas pertanyaan tersebut diatas pasti bisa, sepanjang ada tekat bersama.
Meskipun selama ini Accs selalu hadir untuk membantu pembangunan negeri akan tetapi masih bersifat insidental.
Solusi yang harus diwujudkan untuk menjawab tantangan fiskal tersebut adalah “upaya menghimpun sumber penerimaan lain yang berasal dari swadaya ACCS se Indonesia dalam bentuk parmanent dan melembaga untuk membantu pembiayaan program pembangunan negeri.
Hasil bacarita IKASSI-BASISDA sudah diserahkan kepada Upu Aiyaoo, sebagai Kepala Pemerintahan Negeri, rasanya tidak hanya berhenti sampai disitu saja, akan tetapi masih harus ditindak lanjuti untuk dirumuskan kembali dalam satu konsep perencanaan pembangunan negeri dengan menempatkan skala prioritas dan sumber pembiayaan. Bagi Pemneg perlu menetapkan Program Strategi Negeri (PSN) jangka pendek, jangkah menengah maupun jangka panjang dalam periode pemerintahan.
Rasa prihatin jika hasil bacarita tidak ditindak lanjuti, maka pada akhirnya forum bacarita ikassi-basisda hanya menjadi carita tak bermakna seperti bahasa edepa “ihetu iharu ikohu amane”
IKASSI Ambon Sebagai Lokomotif
IKASSI Ambon yang dianggap sebagai representasi IKASSI-BASISDA, dapat bertindak sebagai lokomotif untuk mengajak/mengundang ketua-ketua Ikassi terdekat yaitu IKKASSI Masohi, IKASSI SBT, IKASSI SBB, IKASSI Buru dan IKASSI Bursel atau anggota lain yang ditunjuk masing-masing IKASSI. Maksudnya adalah untuk duduk bersama dalam satu agenda rapat kerja di Ambon, merumuskan dan kompilasi pikiran-pikiran tersebut dalam suatu konsep perencanaan pembangunan negeri.
Bagaimana memikirkan mekanisme mobilisasi sumber pendanaan yang berasal dari ACS se Indonesia sebagai wujud komitmen moral Ikassi-Basisda dengan pemerintah negeri untuk mendukung pembiayaan pembangunan negari
Setidaknya kita perlu memikirkan satu Lembaga Penghimpun Dana misalnya Lembaga Penghimpun Dana SSI (LPD-SSI) yang di SK-kan oleh KPN bersifat Independen dan atau bentuk Badan lain. Lembaga tersebut berkedudukan di kota dimana ada organisasi Ikassi-basisda. Inilah tanggungjawab Accs sebagai jawaban atas tema bacarita “Mae Ihanue Kuamanno” Semoga tulisan ini bermanfaat●











