IKASSI.NET,-AMBON– Ramadhan sebentar lagi akan usai, bulan suci yang memiliki tempat istimewa diantara seluruh bulan bagi umat Islam, di samping menjalankan ibadah puasa serta sholat dan amalan lainnya. Ramadhan juga momentum memperbaiki kualitas keimanan, memperkuat akhlak, serta meningkatkan kepedulian sosial. Nilai kepedulian dan kepekaan sosial Ramadhan ini yang akan selalu menjadi spirit bagi masyarakat Siri-Sori Islam yang berada di Kota Ambon. Pasca Ramadhan masyarakat Siri-Sori Islam yang ada d Ambon akan diingatkan dengan nilai kepekaan sosial yang berlangsung tiap bulan dalam momentum ilouwe basudarao.
Tak ada yang tau pasti ilouwe basudarao (Bakumpul Basudara) itu pertamakali dilakukan di Siri- Sori Islam. Yang pasti sebagai bagian masyarakat adat di Maluku, Siri-Sori Islam membersamai budaya yang sama, budaya masohi (Gotong Royong). Louwe atau Ilouwe adalah nafas dan karakter masyarakat Siri-sori Islam dari dahulu hingga sekarang.
Jika louwe identik dengan pulu/pulut (ketan) maka tempe memiliki makna yang melekat pada budaya Jawa. Peneliti pusat studi pandan dan gizi Universitas Gadjah Mada, Murdijati Gardjito, menjelaskan tempe memiliki kiasan dan filosofi. Di suku Jawa terdapat kiasan ‘Yen atine becik, tempene apik’ yang artinya tempe itu hanya bisa dibuat oleh orang-orang yang hatinya itu bagus, perilakunya bagus. Artinya rumah tangganya harmonis dapat memelihara hubungan kekeluargaan rumah tangganya dengan baik,” papar Murdijati kepada Kompas.com.
Pemaknaan simbol-simbol tertentu seperti makanan ternyata bukan cuma cerita biasa, dia memiliki nilai yang tinggi dengan nilai filosofi didalamnya. Makanan bukan hanya soal tumbuh kembang tubuh kita atau kebutuhan kita mengganjal perut, tetapi juga simbol persatuan yang mendefenisikan identitas komunitas. Seperti halnya tempe, nah Di ujung timur, di provinsi Maluku, sebelah tenggara pulau Saparua, sekelompok masyarakat dalam negeri (desa) Siri Sori Islam memaknai nasi pulut sebagai bingkai kebersamaan dan satu kesatuan yang termaknai dalam kapata kuno “pika mese-mese”.
Tidak ada yang tau apa sebab pulut dijadikan menu wajib dalam tradisi Ilouwue basudara (bakumpul basudara) masyarakat Siri-Sori Islam. Namun beberapa asumsi yang berkembang pemilihan pulut sarat makna, dia itu kenyal menyatu tidak pecah-pecah, sebuah filosofi bahwa masyarakat Siri-Sori Islam dengan kebersamaannya. Seperti pesan yang disampaikan Ibu Ely Toisuta Wakil Walikota Ambon yang juga anak Negeri Siri-Sori Islam Kita patut bersyukur atas peradaban yang telah diletakkan oleh para leluhur. Budaya Bakumpul Basudara merupakan simbol dari semangat ale rasa beta rasa, katong samua basudara. Menurutnya pesan penting dari momentum ini adalah nilai kebersamaan yang menjadi kekuatan untuk terus membangun silaturahmi antar warga. Budaya masyarakat Negeri Siri Sori Islam ini juga menjadi simpul untuk saling membantu antara satu dengan yang lain.
Terpilihnya Ilouwe basudara oleh balai Pelestarian Kebudayaan Maluku untuk diusulkan sebagai warisan Budaya tak-Benda (WBTB), sebagai suatu hal yang sangat membanggakan, semoga segala ikhtiar yang ada berjalan manis hingga bisa terpilih menjadi Warisan Budaya tak-Benda (WBTB). Sebagai generasi baru, kita memikul tanggung jawab moral untuk merawat agar peradaban leluhur ini tidak akan lekang atau hilang ditelan zaman, serta tetap menjaga titah bakumpul basudara sebagai semangat solidaritas. Simpul nasi pulut diharapkan tetap melekat, bersatu, dan tidak tercerai-berai.
Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebaikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran. Dan bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah amat berat siksanya (al-Maidah/5:2).
Is Pelupessy
Wailela 17 Maret 2026












Discussion about this post