IKASSI.NET.,-AMBON– Terik panas matahari di Kota Ambon siang itu tak menyurutkan niat belasan kepala yang sudah siap menunggu bertemu.
Loby Hotel Mutiara Ambon dipenuhi canda gurau. Sambil menyeruput kopi dan teh hangat ditemani pisang goreng, masing-masing orang kemudian mengulang kenangan masa-masa silam.
Mereka tak lain merupakan anak dari dua negeri bersaudara yang diperkuat ikatan pela dan gandong. Louleha (Louhatta – Leawaka) atau Siri Sori Islam – Haria.
Dua negeri yang terikat persaudaran gandong – pela ratusan tahun silam.
Kini anak negeri Siri Sori Islam yang terhimpun dalam Ikatan Keluarga Siri Sori Islam (IKASSI) Ambon, berksempatan dijamu oleh anak negeri Haria yang terhimpun dalam paguyuban Persekutuan Masyarakat Leawaka/Haria (PUSAKA) Kota Ambon.
Memory kolektif tentang Louleha pun terungkap satu persatu. Mulai dari klub bola Louleha sampai pada tim Arumbae Louleha yang digdaya menaklukkan teluk Ambon dalam lomba Arumbae Belang. Ketika salah satu pengurus PUSAKA, Toce Lewol tiba suasana pun makin mencair.
Ketum IKASSI, Prof. Hasbullah Toisutta mencoba membuka pembicaraan siang itu, dengan mengulang kembali masa-masa silam tentang sakralnya hubungan pela – gandong antar kedua negeri.
Beliau lalu mengisahkan tentang sebuah peristiwa masa silam sikitar tahun 70-an, tentang niat baik orang tua mereka dalam membantu basudara di Negeri Haria. Niat itu kemudian gagal ditunaikan yang kemudian menimbulkan sebuah kejadian di luar nalar terjadi.
“Inilah kekuatan dari sumpah dan janji dalam sebuah hubungan pela dan gandong antar negeri yang sukar diterima akal sehat, namun itu bisa terjadi” ungkapnya mengingat.
Penggalan-penggalan kisah hubungan Louleha menyeruak dalam forum sederhana itu, menjadi tanda kedua komunitas ini sudah lama merindukan kebersamaan yang makin redup karena rutinitas yang dijalani setiap warga.
Pertemuan IKASSI -PUSAKA, sepertinya menjadi babak baru pengulangan sejarah masa lampau, banyak agenda penting yang kemudian dijejaki untuk dilakukan bersama.
Salah satunya komitmen PUSAKA untuk membantu kelangsungan pelaksanaan Pelantikan Raja Negeri Siri Sori Islam di Mei 2026 mendatang.
Selain itu, ada impian besar untuk kembali menggelar prosesi adat panas pela antar kedua negeri. Ritual ini pernah dilakukan para tetua adat di tahun 1960-an silam.
Louleha, sejatinya bukan semata hubungan pela, namun juga gandong (saudara sekandung) yang terikat di antara moyang kedua negeri.
Konon kedua negeri memiliki moyang bersaudara yang kemudian diperkuat oleh janji Pela di Gunung Saniri saat meletusnya Perang Pattimura.
Semoga Louleha selalu abadi dalam kebersamaan dan menjadi teladan toleransi hidup orang basudara di Maluku. (Penulis: Dino Pattisahusiwa)













Discussion about this post